Jumat, 01 Juli 2016

memaafkan...


Baru aku memahami kenapa memaafkan itu lebih mulia dari minta maaf.
kau tahu, ketika seorang mememutuskan untuk memaafkan, dia sejatinya sudah mengalahkan jutaan ego.
menenggelamkan ribuan logika dan tentu saja perasaan yang sudah pasti terluka.

Ah, aku baru tahu. bahwa memiliki hati yang lapang dan jernih itu begitu indah.
Sejak puluhan tahun lalu aku menyimpannya, marah ketika aku mengingatnya. Dan sangat marah ketika aku melihat wajahnya, bahkan saat aku mendengar namanya. Kebencian yg begitu kuat, dan bukan tanpa alasan.
beribu-ribu kali mama selalu berkata "maafkanlah mereka" dengan suata lemah dan pandangan mata yang sayup. Namun aku tak pernah kenal dengan kata maaf. Enak sekali mereka, sudah membuat kegaduhan, membuatku jengkel, menjelekan keluarga, berbicara seenaknya, lantas aku harus memaafkannya.
Aku tak pernah setuju dengan pendapat mama tentang "maaf". Sejak kicil satu, dua luka yg tergores dan tak pernah sembuh. Hingga beranjak dewasa, luka itu bertambah dan semakin banyak. hingga kusaksikan banyak manusia yang hakikatnya hanya "sampah".

Rabu, 22 Juni 2016

Anisa Ayumi- Pedihku

Menarik nafas panjang berkali-kali. "Ya Allah, hamba mohon sembuhkanlah hati ini" terisak, cairan bening tak terbendung lagi, Nisa, begitu ia biasa disapa, terbaring ditempat tidur memeluk boneka panda kesayangan, membenamkan wajahnya dengan terisak. Masih teringat jelas dalam ingatannya ketika Maria membentaknya, dilain waktu, kembali Maria mengoloknya. Terasa perih dihatinya. Ingin ia memaafkan semua kejadian itu, ingin ia melupakan semuanya. Namun pedih sembilu itu masih terasa. Berkali-kali berdamai dengan hatinya, meminta pertolongan Allah agar ia mampu mengikhlaskan semuanya.
Namun ketika Nisa melihat wajah Maria, rasa muak yang terlalu membuncah. Goresan luka itu seperti kembali menganga. Derap jantungnya kian capat, menahan semua marah dalam dada. Begiyi berkali-kali setiap bertatapan dengan Maria. Kamar yang nyaman itu terasa sumpek kala ia teringan Maria, sedalam inikah kebencian itu? "Ya Rabb, aku tak mau seperti ini". Hingga tak terasa Nisa terlelap dalam isakan tangisnya. Mama mengetuk kamar Nisa berkali-kali "Nis, lagi ngapain?" "Nisa, Mama masuk boleh ya?"
namun tetap tidak ada jawaban, perlahan Mama membuka pintu, didapatinya Nisa yang terlelap memeluk boneka kesayangannya dengan genangan air mata yang tersisa. Mama mengehela nafas panjang, membelai kepala Nisa "Kenapa kamu sayang? Ya Allah, jangan kau berikan beban berat untuk putriku" tak terasa butiran beningpun menetes dari mata Mama. "semua doa terbaik Mama untukmu nak" buru-buru Mama menyeka butiran itu dengan punggung tangannya, segera meninggalkan ruangan itu.



Kamis, 02 Juni 2016

Langitku...


Kalau oleh aku menyerah,
Kalau boleh aku mengeluh,
Kalau boleh aku berhenti saja,
Kalau boleh aku marah,
Kalau boleh aku putus asa,

Dalam semua kecewaku pada manusia,
Dalam semua gejolak marahku pada manusia,
Dalam semua kebencianku pada manusia,

Namun Langit terus menatapku,
Namun Langit terus menguatkanku,
Namun Langit terus tersenyum,
Namun Langit terus memanggilku.

Dalam sujud panjangku aku mengadu,
Dalam sujud panjangku aku merintih,
Dalam sujud panjangku aku melepaskan,
Dalam sejud panjangku aku memohon,
Dalam sujud panjangku Langit mendekapku..

Tak peduliku pada semua cerca manusia egois. Karena dalam dekapan Langit, aku tenang..


Aku Pergi



Entah berapa lama ku habiskan waktu untuk menunggumu, melihat setiap gerak gerikmu, dan mencoba mendekat. Namun kusadar, mendekatimu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan terbesar dalam hidupku.

Kini, seiring mentari yang meng- hangat, terik lalu menghilang tenggelam keufuk timur, aku sadar, bahwa  sudah seharusnya aku meneruskan perjalanan. Tak lagi diam disitu hanya untuk memastikan kau menoleh.
Ah, mungkin jalannya memang harus seperti ini. Kenapa pula aku harus tergoda?.
Tergoda untuk mampir dan menunggumu. Ini bukan tentang sebuah penyesalan, namun akan kesadaran yang akhirnya kutemukan, hahhaha lucu memang, aku kalah pada ketidak pastian manusia. Namun bagiku Kepastian Langit jauh lebih aku yakini.
Kini aku pamit, pamit pada rumput yang setia menemani, pada Pak tua yang selalu memberi senyum saat aku menunggumu dibangku itu.
Aku pamit pergi, melepasmu bersama angin.

Minggu, 22 Mei 2016

Story of Nisa

Bismillahirohmannirrohim..
Selamat malam semua... Ujan-ujan gini enaknya nyicip sekoteng yah, kalo enggak susu jahe boleh deh, ato coklat panas juga nikmat (sayang semua itu hanya dalam hayalan) hahahaha
Dari pada ngelantur kesana-kemari (meskipun bukan untuk mencari alamat. Apasih) mending kita bikin cerbung aja. Jadi mulai sekarang, mimin bakal banyak ngepost dalam bentuk cerbung aya kali ya, meskipun sedikit diselingi dengan tulisan dari kegalau-an, keresah-an, dan perenung-an mimin yang kadang gak jelas, maafkeun atuh yaaa (mimin cuman pengen nulis aja kok).. hehehe
Selamat menikmati yah,,,,

Oke, kisah ini bercerita tentang perjalanan seorang anak manusia (ye laaaaah, klo anak kambing mah siapa yang mau peduli) yang penuh dengan rintangan benteng takeshi. perjalanan yang menyenangkan disertai siulan burung-burung yang ikut bernyanyi, mentari yang tersenyum cerah dan semilir angin yang menyejukkan. Namun terkadang dalam sebuah perjalanan tak ayal kita dapati gulungan awan hitam, kilat yang menyambar, dan duri yang menghadang, lolongan anjing yang mencekam atau bahkan kamu dikejar si-anjing itu, ah betapa repotnya bukan. Coba kalian bayangkan, udahmah langit yang mendung hitam, kalian tidak bawa payung maka dengan terburu-buru berlari ingin segera sampai ditujuan, namun tiba-tiba kilat yg menyambar dan laginya terdengan lolongan anjing yang membuatmu gentar, dan tiba-tiba anjing itu ada di belakangmu, menggong-gong dan hendak menggigit. Ketika kamu lari, si-anjingpun mengejarmu, dan saat kamu berlari, ternyata jalan yang kamu susuri itu penuh dengan duri. Ah, tak dapat ku bayangkan gimana itu kondisinya, rumit bukan? yah... begitupun dengan jalan cerita 'Nisa Ayumi' dkk.




Senin, 16 Mei 2016

Garut itu? Manis kaya kue burayot & bisa membuang segala racun.

Assalamualaikum.
Haiii....

nulis lagi nyoook,.. Oke beberapa hari kemarin, tepatnya tgl 5-7 mei aku  mengikuti kegiatan TnT (Traveling and Teaching) di regional Garut spesial HARDIKNAS. Tak dapat dipungkiri bahwa  kepergiku ke Garut dengan setumpuk jenuh dan sejuta kecewa (halah, mulai lebay). Kepergianku kesana mungkin semacam lari dari kenyataan (beuuh, lemah), yah gitulah ya pokonya, semacam mencari suasana baru untuk merapikan hati yang sudah garut marut (carut marut maksudnya ^^).

Jadi di TnT itu, saya bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang, dan melihat kultur baru dalam sebuah masyarakat. Dan salutnya, ternyata masyarakat disana masih memegang budaya dalam hal bahasa (murut saya inimah), jujur disini sendiri, orang2 yang menggunakan bahasa sunda halus itu hanya sekelumit orang saja. Sedangkan di Garut sana sejauh yang saya temui mereka masih menggunakan bahasa sunda halus. Banyak acara yang dilalui mulai dari ketemu panitia yang someah dan balageur, para volunteer yang kece, gokil dan seru2. Perjalanan Traveling yang aduhai, digonjang ganjing dalam truk. Nge-camp di bukit teletubies, dan menyusuri pantai sayang heulang. Hingga akhirnya menuju tempat teaching yang medannya itu waaaarrrr biasaaaa, nikreuh dimalam hari, di gong-gong anjing warga (yang saya heran, ditiap rumah itu ada anjingnya. mungkin semacam satpam. Entahlah) menuruni turunan tajam yang licin dan ada salah satu volunteer yang jatuh juga. Sampe di TKP dengan banjir keringat, dan saat para volunteer rehat, tiba-tiba salah satu volunteer ada yang nyeletuk "Kue Kueeee" lantaran ngeliat susunan rebana yang menyerupai kue ulang tahun, belum lagi satu piala yang kelihatannya kaya cakwe ( efek kehabisan energi habis tracking. hahaha gokil aslina). Dan keseruan masih berlanjut kawan. Pagi harinya semua volunteer siap-siap untuk teaching. Di teaching ini, saya berasa beruntung banget bisa sekolah dengan normal dan banyak lagi nikmat Allah yang harus saya syukuri.  Well, kalo saya ceritain semua disini bakal habis ber ribu-ribu paragraf (beneran lhoooo). Dan semua cukup saya rangkum dalam memori, tersimpan dalam hati dan terkenang dalam ingatan. Garut, oh garut menyisakan memori yang manis seperti rasa kue burayot (itu nama kue siapa yang kasih yah? bisa kepikiran ngasih nama 'Burayot' hahahahahaha).

Dan kalau ditarik kesimpulan dari pemaparan diatas (halah pamaparan, cerita capruk meureun yah) bahwa san-nya saat semua rutinitas menjemukan, orang-orang sekitar yang memuakkan dan problem yang terasa menghimpit, mungkin kita butuh piknik, keluar dari zona kita. Entah untuk menepi sendiri, atau berlari untuk bertemu banyak orang, belajar tentang perbedaan dan keragaman. Tapi yah, jangn keseringan juga, karena menyebabkan terkurasnya isi dompet (hahahaha)

Bulan mei yang cantik, hadiah ulang tahun yang paling manis.. Alhamdulillah..






Rabu, 04 Mei 2016

Waiting....





Menunggu, sebuah kata yang menjemukan dan membosankan bukan?
Kurang lebih 56 jam aku menunggu balasannya, hahaha cukup menggelikan bukan? menghitung seberapa lama kamu akan membalas pesanku. Tentang perasaan, kadang seseorang dibuat bodoh, dibuat seperti anak kecil dan dibuat seperti ling-lung. Ah, sudahlah. Bukankah aku sudah terbiasa menunggu. Bahkan aku sudah lupa dengan waktu yang kuhabiskan dengan menunggu.Dan mungkin, sekarang waktunya untuk aku pergi.Tak ada yang pasti memang, apakah kamu atau siapa yg aku tunggu.Pesonamu mulai pudar seiring kesadaranku. Inilah pilihanku, mengunci semua celah hingga yg seharusnya menjabat tangan bapak ku.

Menurutku 'menunggu' bukanlah kata pasif, yang dihabiskan dengan melamun. Namun, bagiku menunggu adalah kata kerja. dimana aku bisa mempersiapkan banyak hal untuk perjalanan denganmu.
Menyiapkan hati yang lebih lapang, agar nanti kamu bisa leluasa didalamnya.
Menyiapkan telinga untuk lebih peka mendengar keluh dan gundahmu.Suatu hari nanti, kamu bebas menceritakan apapun padaku, tanpa aku memotong ceritamu.
Menyiapkan lisan yang lembut, agar nanti kau merasa nyaman disisiku.
Ah, dan satu lagi. aku belajar untuk banyak mengucapkan 'Terima Kasih'. Agar nanti aku bisa berterima kasih padamu atas semua yg telah kau berikan.

Sudah dulu ya, aku sedang belajar menghafal akhir-akhir ini.
hafalan unutk anak kita kelak.
Semoga kaupun begitu...
Dan aku masih berusaha meraba siluet wajahmu.