Kamis, 14 Juli 2016

semacam berlibur

Bagiku membaca adalah sebuah kegiatan berlibur. yah, berlibur dari rutinitas yang membosankan.
Seperti memasuki dunia baru. Kita tinggal pilih, cerita seperti apa yang kita inginkan, dan masuklah kedalamnya. Seperti keluar dari dunia sendiri, seperti pergi dari kenyataan dan menemukan dunia baru.
Saya selalu penasaran, bagaimana seorang penulisbisa membawa kita masuk kedalam alur ceritanya. Ah, mungkin ini yang dinamakan dengan kekuatan narasi,.. Inilah duniaku, dunia buku. mau kau sebut kutu buku? Terserah..

Senin, 11 Juli 2016

Kufikir semua baik2 saja


Selama ini, kufikir semua baik-baik saja. Ternyata, disana ada seorang ibu yang setiap hari selalu cemas memikirkan anak2 anaknya. Suaminya sudah 3bln tidak bekerja, kedua anaknya masih sekolah. Kebutuhan dapur setiap hari harus tetap terpenuhi.
Kufikir semua baik-baik saja, nun jauh disana ribuan orang hidup dalam  bayang-bayang bom, jangankan
untuk memikirkan fashion, untuk makanpun susah sekali.
Kufikir semua baik-baik saja, ternyata banyak orang diluar sana yang entah bagaimana nasibnya, hidup terkatung-katung, menjadi korban keserakahan manusia lain.
Ah, ternyata aku yang tak peka pada sekitar. Terlalu egois, hanya memikirkan diri sendiri.
Ya Rabb, Ampuni aku...

Jumat, 01 Juli 2016

memaafkan...


Baru aku memahami kenapa memaafkan itu lebih mulia dari minta maaf.
kau tahu, ketika seorang mememutuskan untuk memaafkan, dia sejatinya sudah mengalahkan jutaan ego.
menenggelamkan ribuan logika dan tentu saja perasaan yang sudah pasti terluka.

Ah, aku baru tahu. bahwa memiliki hati yang lapang dan jernih itu begitu indah.
Sejak puluhan tahun lalu aku menyimpannya, marah ketika aku mengingatnya. Dan sangat marah ketika aku melihat wajahnya, bahkan saat aku mendengar namanya. Kebencian yg begitu kuat, dan bukan tanpa alasan.
beribu-ribu kali mama selalu berkata "maafkanlah mereka" dengan suata lemah dan pandangan mata yang sayup. Namun aku tak pernah kenal dengan kata maaf. Enak sekali mereka, sudah membuat kegaduhan, membuatku jengkel, menjelekan keluarga, berbicara seenaknya, lantas aku harus memaafkannya.
Aku tak pernah setuju dengan pendapat mama tentang "maaf". Sejak kicil satu, dua luka yg tergores dan tak pernah sembuh. Hingga beranjak dewasa, luka itu bertambah dan semakin banyak. hingga kusaksikan banyak manusia yang hakikatnya hanya "sampah".

Rabu, 22 Juni 2016

Anisa Ayumi- Pedihku

Menarik nafas panjang berkali-kali. "Ya Allah, hamba mohon sembuhkanlah hati ini" terisak, cairan bening tak terbendung lagi, Nisa, begitu ia biasa disapa, terbaring ditempat tidur memeluk boneka panda kesayangan, membenamkan wajahnya dengan terisak. Masih teringat jelas dalam ingatannya ketika Maria membentaknya, dilain waktu, kembali Maria mengoloknya. Terasa perih dihatinya. Ingin ia memaafkan semua kejadian itu, ingin ia melupakan semuanya. Namun pedih sembilu itu masih terasa. Berkali-kali berdamai dengan hatinya, meminta pertolongan Allah agar ia mampu mengikhlaskan semuanya.
Namun ketika Nisa melihat wajah Maria, rasa muak yang terlalu membuncah. Goresan luka itu seperti kembali menganga. Derap jantungnya kian capat, menahan semua marah dalam dada. Begiyi berkali-kali setiap bertatapan dengan Maria. Kamar yang nyaman itu terasa sumpek kala ia teringan Maria, sedalam inikah kebencian itu? "Ya Rabb, aku tak mau seperti ini". Hingga tak terasa Nisa terlelap dalam isakan tangisnya. Mama mengetuk kamar Nisa berkali-kali "Nis, lagi ngapain?" "Nisa, Mama masuk boleh ya?"
namun tetap tidak ada jawaban, perlahan Mama membuka pintu, didapatinya Nisa yang terlelap memeluk boneka kesayangannya dengan genangan air mata yang tersisa. Mama mengehela nafas panjang, membelai kepala Nisa "Kenapa kamu sayang? Ya Allah, jangan kau berikan beban berat untuk putriku" tak terasa butiran beningpun menetes dari mata Mama. "semua doa terbaik Mama untukmu nak" buru-buru Mama menyeka butiran itu dengan punggung tangannya, segera meninggalkan ruangan itu.



Kamis, 02 Juni 2016

Langitku...


Kalau oleh aku menyerah,
Kalau boleh aku mengeluh,
Kalau boleh aku berhenti saja,
Kalau boleh aku marah,
Kalau boleh aku putus asa,

Dalam semua kecewaku pada manusia,
Dalam semua gejolak marahku pada manusia,
Dalam semua kebencianku pada manusia,

Namun Langit terus menatapku,
Namun Langit terus menguatkanku,
Namun Langit terus tersenyum,
Namun Langit terus memanggilku.

Dalam sujud panjangku aku mengadu,
Dalam sujud panjangku aku merintih,
Dalam sujud panjangku aku melepaskan,
Dalam sejud panjangku aku memohon,
Dalam sujud panjangku Langit mendekapku..

Tak peduliku pada semua cerca manusia egois. Karena dalam dekapan Langit, aku tenang..


Aku Pergi



Entah berapa lama ku habiskan waktu untuk menunggumu, melihat setiap gerak gerikmu, dan mencoba mendekat. Namun kusadar, mendekatimu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan terbesar dalam hidupku.

Kini, seiring mentari yang meng- hangat, terik lalu menghilang tenggelam keufuk timur, aku sadar, bahwa  sudah seharusnya aku meneruskan perjalanan. Tak lagi diam disitu hanya untuk memastikan kau menoleh.
Ah, mungkin jalannya memang harus seperti ini. Kenapa pula aku harus tergoda?.
Tergoda untuk mampir dan menunggumu. Ini bukan tentang sebuah penyesalan, namun akan kesadaran yang akhirnya kutemukan, hahhaha lucu memang, aku kalah pada ketidak pastian manusia. Namun bagiku Kepastian Langit jauh lebih aku yakini.
Kini aku pamit, pamit pada rumput yang setia menemani, pada Pak tua yang selalu memberi senyum saat aku menunggumu dibangku itu.
Aku pamit pergi, melepasmu bersama angin.

Minggu, 22 Mei 2016

Story of Nisa

Bismillahirohmannirrohim..
Selamat malam semua... Ujan-ujan gini enaknya nyicip sekoteng yah, kalo enggak susu jahe boleh deh, ato coklat panas juga nikmat (sayang semua itu hanya dalam hayalan) hahahaha
Dari pada ngelantur kesana-kemari (meskipun bukan untuk mencari alamat. Apasih) mending kita bikin cerbung aja. Jadi mulai sekarang, mimin bakal banyak ngepost dalam bentuk cerbung aya kali ya, meskipun sedikit diselingi dengan tulisan dari kegalau-an, keresah-an, dan perenung-an mimin yang kadang gak jelas, maafkeun atuh yaaa (mimin cuman pengen nulis aja kok).. hehehe
Selamat menikmati yah,,,,

Oke, kisah ini bercerita tentang perjalanan seorang anak manusia (ye laaaaah, klo anak kambing mah siapa yang mau peduli) yang penuh dengan rintangan benteng takeshi. perjalanan yang menyenangkan disertai siulan burung-burung yang ikut bernyanyi, mentari yang tersenyum cerah dan semilir angin yang menyejukkan. Namun terkadang dalam sebuah perjalanan tak ayal kita dapati gulungan awan hitam, kilat yang menyambar, dan duri yang menghadang, lolongan anjing yang mencekam atau bahkan kamu dikejar si-anjing itu, ah betapa repotnya bukan. Coba kalian bayangkan, udahmah langit yang mendung hitam, kalian tidak bawa payung maka dengan terburu-buru berlari ingin segera sampai ditujuan, namun tiba-tiba kilat yg menyambar dan laginya terdengan lolongan anjing yang membuatmu gentar, dan tiba-tiba anjing itu ada di belakangmu, menggong-gong dan hendak menggigit. Ketika kamu lari, si-anjingpun mengejarmu, dan saat kamu berlari, ternyata jalan yang kamu susuri itu penuh dengan duri. Ah, tak dapat ku bayangkan gimana itu kondisinya, rumit bukan? yah... begitupun dengan jalan cerita 'Nisa Ayumi' dkk.